• MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI 2 FLORES TIMUR
  • “Every Time is Learning”

Napak Tilas Perjuangan Guru Agama MTs Negeri 2 Flores Timur

Dimiladmu yang ke-49, Pimpinan Redaksi Buletin Madrasah/Kepala Urusan Humas (Haji Wahid, S.Pd) menggoreskan penanya sebagai kado istimewa teruntuk Sang Guru Agama

 

MTsN 2 Flotim (Inmas) – 05 Oktober, empat hari setelah Perayaan Hari Kesaktian Pancasila, Arsy Peradaban Lamakera bergetar menyambut lahirnya seorang anak manusia. Segenap keluarga, handai taulan bertasybih memanjatkan puji syukur atas hadirnya buah hati yang diberi nama Muhammad Abbas. Ada- ada saja kisah perjalanan mengarungi samudera hidup dan kehidupan. Pengalaman demi pengalaman di ulas dalam kisah, tidak seutuhnya tergores, pastinya ada sebagian sisi hidup diangkat dan sangat mungkin menjadi kisah klasik tuk masa depan. Suka duka, derita- bahagia mewarnai segenap aktivitas. Terkadang harus merelakan diri berpisah dengan orang- orang dicintai yang tidak tentu entah kapan kembali layaknya ketika masa kecil dalam belaian kasih sayang ayah bunda. Tidak juga pasti kapan kembali lagi bermain kelereng atau petak umpet bersama kawan sahabat mengisi cerianya hari. Segalanya ditebus demi cita  suci menimba ilmu di negeri Daeng Kota Makassar.

Makassar, kala itu lebih familiar Ujung Pandang ibu kota Sulawesi Selatan menjadi target pilihan melanjutkan studi ke jenjang University. Kota yang menempa mental dan pribadi kuat menghadapi situasi sulit dalam segala hal. Keterbatasan biaya pendidikan dan biaya penginapan (kost), kekurangan biaya kebutuhan hidup. Segalanya dilalui dengan keteguhan dan usaha maksimal untuk meraih gelar Sarjana Agama,(S.Ag) di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Kisah penuh haru dilewati dengan menempuh jauh jarak dengan berjalan kaki dari jln.Alauddin (kost) menuju kampus UMI Makassar di jln. Perintis,. Kesemuanya harus dilalui akibat terkendala pada biaya naik Angkot. Bisa dibayangkan kesungguhan dan semangat perjuangan demi meraih cita-cita gelar akademik. Belum sempat menunaikan kewajiban biaya kuliah, diperhadapkan pada periuk tanpa beras tergantung didinding kamar kost. Kampung tengah (perut) keroncongan, e.. telah menunggu di depan pintu ibu kost menagaih sewa kontrakan kamar. Walau tertatih- tatih, segalanya dapat dilewati dan berhasil mendapat ijazah S1 dengan gelar Sarjana Agama.

Berbekal Ijazah Sarjana, mencari lowongan pekerjaan hingga ketanah Jawa  kota Jakarta, disana berjibaku dengan ganasnya ibu kota negara hingga kemudian hijrah ke Pulau AndalasJambi kota yang mempertemukannya dengan seorang gadis yang kemudian dipersunting dan menjadi ibu bagi kelima putra- putrinya. Sebagai putra daerah kelahiran tanah Timur Nusa Solor, atas restu mertuanya membawa pulang gadis yang telah dinikahi. Masih dan selalu berbekal Ijazah Sarjana menuju beberapa instansi di Flores Lembata, Namun belum menemukan jodoh untuk menerimanya sebagai staf pegawai. Opsi berikutnya untuk menopang ekonomi keluarga kecilnya, merelakan diri berjubel di jalan raya sebagai Tukang Ojek di kota Lewoleba kab Lembata, hingga suatu ketika, motor ojek yang dipinjamkan teman kepadanya untuk mengais rezeki, mengalami kecelakaan (Tabrakan).

Achh.. betapa stress menghadapi situasi sulit seperti ini.  Hasil  yang didapat belum cukup memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, harus pula menebus biaya bengkel perbaikan motor ojeknya, motor korban kecelakaan dan biaya pengobatan, perawatan korban kecelakaan di Rumah Sakit. Mengabaikan luka tabrakan pada diri sendiri, sibuk merinci jumlah anggaran yang dibutuhkan, dan dari mana bisa mendapatkannya jumlah dana mencapi 1 juta lebih. Stress, pusing, bingung berbaur menyatu dalam diri.  Ketabahan,kesabaran dan tanggung jawab selalu pada pribadinya,  tanpa diduga situasi sulit dapat diatasi dengan tanpa mengeluarkan anggaran sepeserpun, justeru seolah keajaiban yaitu mendapat sambutan baik dari korban maupun keluarga korban kecelakaan, Biaya Rumah Sakit dan pembiayaan bengkel perbaikan motor tidak dalam tanggungannya.

Setelah beberapa tahun di Lewoleba (Lembata), menginap tanpa sewa kontrakan di rumah teman yang ternyata masih ada hubungan darah keturunan dari nenek(sepupu), kemudian memutuskan pamit untuk kembali pulang ke tanah kelahiran Nusa Solor. Tanah  tandus, kampungnya para nelayan muslim Lamakera. Setelah beberapa tahun Bertahan menetap di tanah kelahiran, atas bujukan saudara- saudarinya dengan asumsi karena Orang Tua telah berpulang ke Rahmatullah, kemudian lelaki ini memilih dan memutuskan untuk  pindah domisili di kampung tetangga tepatnya desa Labelen (Gorang) melanjutkan perawatan rumah sepeninggalan Orang Tua. Masih berbekal Ijazah Sarjana, sekali lagi belum ada instansi yang menerimanya sebagai staf pegawai. Masih dan masih di Nusa Solor, gersang dan tandusnya alam geografis, tidak ada Perusahaan, juga minimnya Instansi Pemerintahan menuntut kepala keluarga ini harus terjun dan berjibaku di samudera luas sebagai nelayan.

Ikatan kekerabatan keluarga masih sangat kental hingga hari ini, namun apapun alasannya kebutuhan ekonomi keluarga di rumah, tidak melulu mengharapkan uluran tangan dari keluarga yang lain alias sekadar (menengadahkan tangan). Tentang ini siapapun akan sependapat. Karenanya sebagai kepala keluarga, mau tidak mau, harus menempuh jalur menjadi nelayan dengan melibatkan diri sebagai anggota perahu nelayan. Suka tidak suka, harus melewati fase sulit yaitu Mabuk laut akibat ganasnya hempasan badai ombak dan kencangnya terpaan angin malam di tengah laut. Huff.! Berat dan memang berat, membayangkan saja rasanya enggan, apatah lagi terlibat langsung, hhuuhhh........... sport jantung deechhh!

Semangat juang pengorbanan terpatri dalam diri, ikhlas menjadi acuan niat suci menafkahi kebutuhan ekonomi keluarga. Segalanya berjalan lancar, lumrah dan apa adanya. Hasil tangkapan melimpah membuat hari tampak ceria terpancar dari senyum mengembang di bibir, sebaliknya terkadang tanpa hasil yang diharapkan. Lagi dan lagi lelah tidak terbayar, hari tampak kusut. Segalanya diterima dengan Ikhlas.

Seiring perjalan waktu, Lamakera sebuah kampung di ujung timur Pulau Solor kec. Solor  Timur pada waktu itu menarik minat para nelayan dari  beberap daerah (kab), di NTT berdatangan mencari tambahan penghasilan. Tidak hanya para nelayan, akan tetapi masyarakat umum, termasuk anak-anak usia sekolah, bahkan masyarakat perkantoran pun ikut melaut menangkap dengan cara pengeboman Ikan Tuna. Tak dapat diingkari bahwa penghasilan perharinya  terbilang cukup tinggi dengan cara kerja relatif singkat dan mudah. Syaratnya tidak ribet- ribet. intinya bisa berenang dan menyelam tangkap ikan yang sudah mati dibom. Siapapun akan tergiur dengan penghasilan perharinya, sehingga tidak heran jika ada saja Aparatur Sipil Negara (ASN) pun ikut serta, disadari bahwa penghasilan perharinya setara bahkan melebihi beberapa kali lipat dari gaji sebulannya ASN.

Dalam pada waktu itu belum juga mendapat pekerjaan sesuai dengan basic ijazah, seolah- olah angin segar menyapu bersih masa sulit, animo ayah muda ini memantapkan niat untuk tetap eksis sebagai pelaut, meski beberapa kali ajakan temannya (Moh.Ismail,S.Ag) untuk bergabung pada lembaga pendidikan formal di MTs. Negeri Lamakera ditolaknya dengan alasan sederhana, penghasilan sebagai nelayan jauh lebih besar dibanding pekerjaan Staf Pegawai Tidak Tetap (PTT) pada  lembaga pendidikan.

Ajakan demi bujukan tetap ditolaknya, hingga  suatu ketika, temannya berkunjung kerumah yang bertepatan mendapati ayah muda ini tengah berbaring di balai bambu depan rumahnya. Matahari baru bergerak naik, hari masih pagi, ayah muda ini meletakkan kedua tangan tepat di dahinya, pakaian basah setengah badan, tidak juga ada sandal di kolom balai bambu, pertanda baru pulang dari laut setelah semalaman bercengkerama dengan deburan ombak menghempas perahu dan diselimuti dinginnya angin laut. Assalamu'alaikum,... sapaan temannya tidak sedikitpun digubris pun tidak dijawabnya. Wach.. kenapa Paman Koch...  seperti tidak bersemangat, beban pikiran e ..?, Hmmm.. mau gmn lagi, sergahnya, beberapa hari terakhir, bahkan menjelang seminggu ini tidak ada penghasilan. Yhach... beginilah nasib saya. Ijazah Sarjanaku sepertinya tidak berfungsi(keluh pria kelahiran (05 Oktober 1971), Hmmm,.. syair lagunya Bang Fals benar-benar menceritakan potret dan nasib pribadi saya. sambungnya.! Saya tidak bisa habis pikir kalo nasib saya hanyalah seorang nelayan menjadi buruh kasar di laut. Oww.. gitu masalahnya... saatnya untuk bangkit paman dan jangan pernah putus asa timpal temannya Moh. Ismail.

Gimana, Apa masih mau terima tawaran saya bergabung di MTsN Lamakera, tanya teman   kepada tubuh yang masih terbaring lesu di balai bambu. Seketika ayah muda ini bangkit dan duduk kemudian balik bertanya, yang benar, emang tawaran itu masih berlaku untuk saya, Kalo mau bergabung, yha buat lamaran pekerjaan kemudian antar di sekolah pada hari Senin.! Ok,....Ok... akan saya antar Lamaran Pekerjaan ke sekolah, tapi saya tidak bisa buat Lamaran Pekerjaan le. Hehehee... Intinya harus berusaha toh sudah dikasih jalan. Ternyata dan ternyata Lamaran pekerjaan dibuatkan oleh teman yang datang mengajaknya bergabung di sekolah MTsN Lamakera.

Kini tiba waktunya bergabung dan bekerja sebagai tenaga pengajar di MTsN Lamakera. Sebagai guru honorer, tentu insentif perbulannya tidak seberapa. Hmm......... untuk kebutuhan hidup pun tidak mencukupi sebulan, sangat mungkin sepuluh hari gaji sebulannya telah ludes habis.

Penambahan tenaga pengajar, menghendaki pembagian ulang tugas pokok dan tugas tambahan. Keputusannya bahwa pria tabah ini memangku Mapel Muatan Lokal(Mulok). Seketika suara rame ketawa mendengar pertanyaannya apa itu Mulok, hahhaa... wkwkwkwk.... wajar saja kalo menurutnya baru kali pertama mendengar nama Mulok. Jadilah pemilik gelar S.Ag memangku mapel yang tidak sesuai spesifikasi jurusan. Belum matang materi Mulok, diserahkan pula Matematika, yang kebetulan guru Matematika pindah tempat tugas. Wachh..wachh,.... LLuaaarrrrr Biasa,  Sarjana Agama memangku Mapel Mulok dan Matematika.

Kegiatan Belajar Mengajar berjalan lancar, hingga akhir semester. Pembagian tugas pokok dan tugas tambahan bagi guru/pegawai, menetapkan mapel SKI, Fiqih dipangku oleh putra daerah yang berdomisili di kampung tetangga. Seiring peredaran waktu, telah mencapai lebih dari 3 kali 365 hari, pria ini menempuh jauh jarak lebih dari 5.000 meter menuju tempat tugas dengan berjalan kaki bahkan tak kenal menyerah menghibahkan diri seorang berdayung sampan di pagi buta demi menafkahi kebutuhan ekonomi keluarga. Loyalitas dan dedikasi semangatnya menjadi obrolan serius oleh beberapa rekan kerja. Adalah Moh.Ismail,S.Ag dengan Sa'id Belaga, S.Sos. Masing- masing menjabat sebagai Wakamad Kurikulum dan bendahara MTsN Lamakera(waktu itu). Obrolan demi obrolan menyepakati untuk mengupayakan kendaraan roda dua untuk mempermudah jangkauan bapak tiga anak ini menuju sekolah menjalankan tugas dan fungsinya sebagai tenaga pengajar.

Hehehe.. solusi tepat menjadi nasabah BRI. Lagi dan kendala berikutnya, barang jaminan untuk peminjaman. Hmmm.. barang jualan adik sepupu (istri Wakamad) menjadi sasaran barang jaminan. Tidak cukup disitu kesulitannya yaitu barang jaminan berada di Lamakera, sedang bapak tiga anak ini domisilinya di kampung sebelah. Hanya argumentasi barangnya dikelola oleh adik sepupu sehingga tinggal menunggu waktu pencairannya dari pegawai BRI Unit Cendana Solor. Menurut informasi dari pegawai BRI bahwa menjelang 2 hari lagi dana pinjaman akan cair. masih menunggu panggilan realisasi pencairan, ditengah malam pukul 23.00 hand phone berdering dan mengaku dari Pegawai BRi yang menyatakan pembatalan pencairan dana pada esok hari, karena barang jaminan diketahui bukan milik pribadi tpi sekadar nebeng/ pinjam foto sebagai barang jaminan. Sontak lelaki ini tidak lagi bisa tidur hingga waktu shubuh menjelang.

Meski selalu mengganggu pikirannya, semangat menjalankan tugas tidak pudar dengan tetap mendayung sampan. Tapi raut wajah jelas terbaca akan kegelisahan  pada sesuatu masalah. Kenapa lagi Paman, kan beberapa hari lagi motor akan dibeli, Koch hari ini murung,.. Itulah masalahnya, uangnya tidak jadi cair karena info dari telfon tadi malam ulasnya. Timbul berbagai pertanyaan demi pertanyaan penyebab dana pinjaman gagal cair. Belum juga menemukan penyebabnya,.. tiba- tiba ada kunjungan Pegawai BRI di MTsN Lamakera memberikan informasi bahwa atas nama Muhammad Abbas segera ke BRI UNIT CENDANA SOLOR untuk realisasi pencairan dana pinjaman.

Bertanya- tanya dalam hati, bukankah yang menelfon tadi malam dari pegawai BRI, tapi Koch saat ini pegawai BRI sendiri yang datang menyampaikan akan realisasi dana pinjaman, lantas siapa yang menelfon..?? Hehehe... suara dan logat/dialek temannya Hasanuddin S.Dasy ditelfon mirip orang Jawa, membuat bapak tiga anak ini terkecoh. Wkwkwk... temannya  terlanjur dengar berita rencana pinjam di BRI. Mengabaikan siapa penlelfon tadi malam, kemudian bergegas pamit dari sekolah menuju BRI Unit Cendana Solor di Menanga dalam rangka realisasi Dana pinjaman.

Menurut info dari rekan kerjanya bahwa motor bekas pakai banyak dijual di larantuka, karenanya menyepakati waktu untuk ke Larantuka. Motor telah  dibeli. Namun perjalanan kembali pulang dari tempat Beli Motor ke rumah, ada perasaan was-was rekan kerjanya (Moh Ismail), karena pemakai jalan di larantuka tidak taat aturan Lalulintas. Sempat terjadi tawar- menawar pertimbangan siapa yang harus bawa motor yang baru dibeli. Lelaki yang telah lama berharap memiliki motor pribadi ini, penuh percaya diri menyatakan bahwa motor ini(baru) milik saya, jadi biar saya yang pertama mengendarainya. Atas pertimbangan sebelumnya terkait pemakai jalan yang tidak patuh aturan Lalulintas, maka pemakai motor baru di arahkan untuk berjalan di depan dan selalu diingatkan agar tetap berada pada samping trotoar. Mengikuti arahan rekanya, hampir-hampir hampir saja motor baru serempet dinding trotoar. Hehehe,.. tiba di Rumah rekannya dengan selamat walau menempuh perjalan menegangkan.. Sport Jantung donk.

Kini hasil usaha maksimal telah menjadi hak milik pribadi, dan masih dalam semangat tak surut, prinsip dan keteladanannya, Oleh Yang Maha Kuasa mangaruniainya lima(5) buah hati. Anak pertama dan keduanya kini melanjutkan studi di pulau Jawa. Motor yang dimilikinya masih dapat dipakai untuk menuju tempat tugas di MTsN 2 Flotim. Ketika masa awal pembelian hingga beberapa tahun berjalan, motor ini layaknya jadi motor dinas MTsN Lamakera, namun kini, mengingat umur motor terbilang cukup lama, maka oleh pemilik motor membatasi peminjaman dengan alasan khawatir terjadi kerusakan lebih parah pada motor yang berefek pada kehadirannya di sekolah.

semangat menjalankan tugas, tegas menyampaikan setiap kebutuhan demi pengembangan madrasah, oleh rekan guru menobatkan beliau  sebagai Kamadnya para guru Honorer MTsN 2 Flotim. Semoga sehat selalu, umur berkah, langkah mudah, masa depan cerah. Lagi dan lagi semoga bertambahnya usia menjadikan teladan yang baik bagi bagi putra- putri kebanggaan, menjadi inspirasi bagi rekan kerja di MTsN 2 Flotim.

Atas nama MTsN 2 Flotim, Kamad Moh. Ismail, S.Ag mengucapkan selamat Ulang Tahun kepada guru Mapel SKI, FIKIH, Tahfifz Qur'an Saudara Muhammad Abbas, S.Ag, berharap tetap menjadi obor penyemangat rekan kerja demi pengembangan MTsN 2 Flotim kedepannya.

 

By Humas MTsN 2 Flotim (05/10/2020).

 

 

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Sosialisasi Program taman Baca Lamakera di MTsN 2 Flotim

MTsN 2 Flotim (Inmas) – Masih diawal tanggal dalam bulam berjalan, MTs.N 2 mendapat kunjungan Sosialisasi dari pengurus dan penyelenggara TAMAN BACA LAMAKERA. Adalah Ade IBNU

06/11/2020 23:18 - Oleh ismail - Dilihat 30 kali
Syarhil Qur'an MTsN 2 Flores Timur Tampil Memukau

MTsN 2 Flotim (Inmas) – Lelah terbayar, yaa ... kalimat awal untuk menggores penampilan spektakuler anak didik MTsN 2  Flotim peserta lomba Syahril Qur'an tingkat kecama

09/10/2020 22:13 - Oleh ismail - Dilihat 42 kali
Peletakan Batu Pertama Pembangunan Asrama Siswa

MTsN 2 Flotim (Inmas) – Mentari pagi menyapa semesta raya pertanda sederetan aktivitas segera dimulai. Tak terhitung banyaknya masyarakat bersama Civitas MTs.N 2 Flotim telah berk

15/09/2020 22:27 - Oleh ismail - Dilihat 178 kali
MTs Negeri 2 Flores Timur

Lamakera

21/08/2020 23:42 - Oleh ismail - Dilihat 43 kali
Akses Lokasi MTs Negeri 2 Flores Timur

Lokasi MTs Negeri 2 Flores Timur  Kecamatan Solor Timur Kab. Flores Timur NTT

21/08/2020 23:08 - Oleh ismail - Dilihat 40 kali
Dialog Interaktif Bersama DR. UMAR SULAIMAN BETHAN (Dosen Poli Tekhnik Undana Kupang)

MTsN 2 Flotim (Inmas) – Senin,17 Agustus 2020  Seluruh rakyat Indonesia merayakan HUT Kemerdekaan dengan beragam cara bentuk. Di usia 75 Kemerdekaan RI, segenap Civitas Akade

21/08/2020 22:14 - Oleh ismail - Dilihat 33 kali
Dua Guru MTsN 2 Flores Timur Mengikuti Lomba Blog Guru Tk. Nasional

MTsN 2 Flotim (Inmas) – Kepala MTs Negeri 2 Flores Timur, Moh.Ismail, S.Ag pada moment obrolan lepas di beranda Madrasah bersama beberapa guru yang rehat usai mengecat meja belaja

15/08/2020 23:27 - Oleh ismail - Dilihat 240 kali
Rapat Evaluasi Efektifitas Pembelajaran e-Learning MTs Negeri 2 Flores Timur

MTsN 2 Flotim (Inmas) – Selasa, 11 Agustus 2020, Kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Flores Timur, Moh. Ismail, S.Ag mengamanhkan kepada Urusan Humas, Haji Wahid, S.Pd dibawah koo

11/08/2020 19:07 - Oleh ismail - Dilihat 115 kali
e-Learning Masih Menjadi Pilihan Utama

MTsN 2 Flotim (Inmas) – Dewan Guru Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 melangsungkan Rapat Pemantapan Persiapan Pemberlakuan Pembelajaran Daring (Online) melalui e-Learning di awal Tahun

25/07/2020 21:25 - Oleh ismail - Dilihat 47 kali
MTs Negeri 2 Flores Timur Menggelar Apel Kesadaran 17 Juli 2020

MTsN 2 Flotim (Inmas) – Apel Kesadaran Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Agama merupakan agenda rutinitas, tepatnya pada tanggal 17 setiap bulan.  MTs Negeri 2 Flores T

19/07/2020 10:36 - Oleh ismail - Dilihat 109 kali